Senin, 31 Mei 2021

GELIGA ( Gerakan Literasi Digital)


 

Rancangan Tindakan Aksi Nyata

PGP-Angkatan 1-Polewali Mandar-Rudianto-Rancangan Aksi Paket Modul 3

Modul 3.3           : Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Nama CGP     : Rahmayanti Wahid  

Program             : Pelatihan Mini GELIGA ( Gerakan Literasi Digital )

 

A.      Latar Belakang

Literasi digital memiliki peran penting dalam keterlaksanaan daring atau pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi Covid-19, seperti halnya memperlancar pelaksanaan daring, pelaksanaan menjadi lebih efektif, dan memudahkan dalam mencari dan mengolah informasi, mempermudah kolaborasi antara pengajar dan pembelajar. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi selama daring atau pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi Covid-19 akan mendorong pada peningkatan literasi digital

Literasi digital menjadi pedoman untuk menunjang pembelajaran dengan media digital. Dengan sumber digital siswa tidak hanya dapat berfokus pada pemahaman materi tapi mereka juga bisa berpikir kreatif dalam memanfaatkan teknologi. Maka dari itu literasi digital diperlukan dalam pengembangan cara berpikir kritis siswa.

 

B.      Tujuan

Adapun tujuan progam GELIGA ( Gerakan Literasi Digital ) adalah :

·                Mengedukasi rekan sejawat dan siswa dalam memanfaatkan perangkat digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan dalam pembelajaran

·                Mengedukasi rekan sejawat dan siswa agar dapat menggunakan media digital secara bijak, kreatif dan bertanggung jawab

 

C.      TAHAPAN BAGJA

 

 

 

Tahapan BAGJA

 

Hasil Tahapan

B-uat Pertanyaan

·         Bagaiamana meningkatkan pemahaman siswa dalam memanfaatkan perangkat digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan dalam pembelajaran ?

·         Bagaiaman    meningkatkan     kesadaran     siswa     dalam

menggunakan media   digital   secara   bijak,   kreatif   dan


 

bertanggung jawab ?

A-mbil Pelajaran

Siapakah yang pernah berhasil meningkatkan pemahaman siswa dalam memanfaatkan perangkat digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan dalam pembelajaran

·         Mencari profil sekolah, orang / teman sejawat atau tokoh terkenal yang sudah pernah atau berhasil meningkatkan pemahaman siswa dalam memanfaatkan perangkat digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan dalam pembelajaran serta kesadaran siswa dalam menggunakan media digital secara bijak, kreatif dan bertanggung jawab

 

Aktivitas apa saja yang dilakukan dalam meningkatkan kompetensi siswa dalam hal toleransi?

·         Mencari tau dan mencatat bagaimana sekolah, orang / teman sejawat atau tokoh terkenal dalam meningkatkan pemahaman siswa memanfaatkan perangkat digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan dalam pembelajaran serta kesadaran siswa dalam menggunakan media digital secara bijak,

kreatif dan bertanggung jawab

G-ali Mimpi

·         Siswa memiliki kemampuan dalam memanfaatkan perangkat digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan dalam pembelajaran serta memilki kesadaran dalam menggunakan media digital secara bijak, kreatif dan bertanggung jawab

·         Guru memiliki kemampuan dan kreatifitas dalam megedukasi siswa dalam memanfaatkan perangkat digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan dalam pembelajaran serta memiliki kemampuan dalam memberikan kesadaran kepada siswa dalam menggunakan media digital secara bijak, kreatif dan bertanggung jawab

·         Kepala Sekolah memberikan dorongan, motivasi serta dukungan terhadap upaya program GELIGA (Gerakan Literasi Digital) serta kepercayaan terhadap langkah perbaikan dan pengembangan bagi guru dan murid

·         Meningkatnya pemahaman kepala sekolah, guru, tenaga

kependidikan, dan siswa dalam menggunakan media digital


 

dan internet.

·         Keluarga ikut mendampingi dalam penggunaan media digital sebagai sarana pengembangan literasi digital Pendampingan keluarga terutama orang tua kepada anak dalam menggunakan alat elektronik dan mengakses internet di rumah untuk

membantu tugas sekolah menjadi hal yang sangat penting.

J-abarkan Rencana

·         Program ini dapat berjalan dengan baik dengan keterlibatan semua komunitas sekolah, seperti kepala sekolah sebagai penanggung jawab, para guru sebagai pengarah dan murid sebagai pelaksana ( Subjek ) Orang tua sebagai mitra sekolah mendukung dan mendampingi murid dirumah.

·         Monitor dilakukan oleh murid kepada murid dan untuk murid sendiri. Evaluasi melibatkan guru, kepala sekolah,

dan masyarakat luar sekolah (Orang tua)

A-tur Eksekusi

Penanggung jawab dan mekanisme koordinasi antar tim:

·         Penanggung Jawab kegiatan : Kepala sekolah

·         Pengarah : Dewan guru

·         Koordinator : Guru

·         penanggung jawab kegiatan, perlengkapan , tempat : guru dan murid

laporan dibuat oleh koordinator kegiatan (guru) . Koordinasi dilakukan seminggu sekali Hasil laporan koordinasi kepada kepala sekolah. Evaluasi dilakukan dalam rapat koordinasi dengan kepala

sekolah dan guru

 

D.     MELR (Monitoring, Evaluation,Learning, and Reporting)

 

a.      Rencana Monitoring

 

Pertanyaan Kunci Evaluasi Program

·         Sejauh apa program GELIGA (Gerakan Literasi Digital) yang telah berjalan sesuai dengan tujuan utama program ?

·         Apa saja hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan

program GELIGA (Gerakan Literasi Digital)

 

b.      Fokus Monitoring


Fokus Monitoring

 

Pertimbangan Pemilihan

Pertanyaan Utama

Monitoring

Bagaimana kegiatan pelaksanaan program GELIGA (Gerakan Literasi Digital)?

Untuk memastikan kegiatan berjalan dengan baik murid mengikuti petunjuk yang diberikan

oleh guru

Bagaimana sikap murid saatkegiatan Program GELIGA (Gerakan Literasi Digital)

dilaksanakan ?

 

c.       Metode Penggalian Data

 

Pertanyaan Monitoring

Sumber Informasi

Metode

Kapan /

Bagaimana

·   Apakah setiap murid menjalankan perannya ?

·   Bagaimana sikapmurid saat mengiktu program GELIGA (Gerakan

Literasi Digital) ?

Guru , murid

Wawancara/O bservasi

Dalam proses berjalan

 

d.      Strategi Pengolahan Data

 

Pertanyaan

Monitoring

Data yang

terkumpul

Kesimpulan

Catatan Khusus

Pengecualian , dll

Bagaimana pelaksanaan kegiatan program GELIGA (Gerakan Literasi Digital) , apakah setiap murid dapat mengikuti program

dengan baik?

Setiap murid dapat mengikuti program GELIGA dengan baik

Kegiatan progran GELIGA (Gerakan Literasi Digital) berjalan dengan lancer

-

 

e.      Pembelajaran Program

 

Faktor – faktor pendukungpelaksanaan

program

Faktor-faktor penghambat pelaksanaan program

 

Pembelajaran

Koordinasi team yang

·      Jaringan yang lelet

Siswa SD belum


baik

·      Tidak semua siswa memilki Hand Phone

memiliki Hand Phone sendiri, dan untuk mengikuti program GELIGA siswa dapat memanfaatkan atau menggunakan Hand Phone orang tua ataw anggota keluarganya yang memilki Hand

Phone.

 

f.        Pelaporan Program

 

 

Laporan Pelaksanaan Program

Gambaran Umum Program

·      Mengedukasi siswa dalam memanfaatkan perangkat digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan dalam pembelajaran

·      Mengedukasi siswa agar siswa dapat menggunakan media digital secara bijak, kreatif dan bertanggung jawab

Dalam pelaksanaannya murid sangat antusias mengikuti kegiatan program yang dilaksanakan hal ini terlihat dari keaktipan serta rasa penasaran siswa dalam memanfaatkan perangkat digital. Dengan kata lain program ini berjalan dengan baik

dan tujuan dari progam inipun tercapai.

Deskripsi Pelaksanaan Program :

Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan program ini berkisar 4 minggu dimulai dari perencanaan hingga pelaporan , program ini akan diaksanakan secara konsisten (berkesinambungan)

 

Strategi Pelaksanaan Program

Berbagi peran merupakan strategi yang digunakan dalam pelaksanaan program GELIGA (Gerakan Literasi Digital), peran dan kontribusi berbagai pihak diperlukan dalam mencapai tujuan dari program ini , kerjasama melalui diskusi dan kolaborasi dilaksanakan untuk membangun iklim positif dari berbagai pihak

yang berkepentingan ( Pengawas sekolah , Kepala Sekolah , Guru ,Komite , Murid ,


Orang tua/masyarakat)

 

Faktor Pendukung dan Penghambat Program

Faktor pendukung dari program ini adalah peran dan kontribusi berbagai pihak dalam bentuk moril maupun materil

 

Faktor penghambat dari program ini adalah siswa tidak memilki Hand Phone sendiri untuk itu diperlukan kerjasama antara pihak sekolah dan orang tua wali murid yaitu dengan memanfaatkan Hand Phone yang dimilki oleh orang tua/wali murid atau anggota keluarga agar siswa dapat mengikuti program GELIGA dengan baik.

 

Hasil Pelaksanaan Program

Dilihat dari antusias murid serta kerja sama yang yang baik yang terjalin program ini berjalan dan terlaksana sesuai dengan yang diharapkan akhirnya tujuan dari pogram ini pun tercapai

Evaluasi program

Evaluasi Program diperlukan dalam mengoptimalkan pencapaian tujuan dari program tersebut , wawancara ,observasi , survey dilakukanan dalam meningkatkan hasil nyata

dari program yang dijalankan

Pembelajaran Program

Pembelajaran yang didapat dari program Pajangan Karya Murid

Dalam pencapaian tujuan dari proram yang dicanangkan diperlukan peran dan kontribusi dari berbagai pihak yang berkepentingan untuk itu kerjasama dan kolaborasi yang baik harus dibangun agar tercipta iklim yang positif. Monitoring , evaluasi serta pelaporan menjadi salah satu strategi yang tepat agar program yang nantinya dijalanankan sesuai dengan harapan dan tujuan dari program tersebut. Program GELIGA adalah salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam memanfaatkan perangkat digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan dalam pembelajaran serta meningkatkan kesadaran siswa dalam

menggunakan media digital secara bijak, kreatif dan bertanggung jawab.

 

Dalam Perencanaan hingga pelaporan Program GELIGA (Gerakan Literasi Digital) di Sekolah SDN 035 Bussu melakukan pelibatan dengan berbagai pihak yang berkepentingan dari dalam maupun luar sekolah (Pengawas sekolah , Kepala Sekolah , Guru , Komite , Murid , Orang tua/masyarakat) agar program dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang diaharapkan.


Dengan literasi digital sekolah, siswa, guru, tenaga kependidikan, dan kepala sekolah diharapkan memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami,serta menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, dan jaringannya. Dengan kemampuan tersebut mereka dapat membuat informasi baru dan menyebarkan-nya secara bijak.

Dalam literasi digital keluarga, orang tua merupakan garda terdepan dalamproses literasi digital di ranah keluarga. Ayah dan ibu merupakan pendidik per- tama dan utama. Keluarga wajib melindungi anak- anaknya dari berbagai pengaruh negatif lingkungan, termasuk media digital. Pengembangan literasi digital keluargalebih menekankan pada pentingnya mengoptimalkan pemanfaatan konten positif dan menyaring konten negatif. Dalam hal ini, keluarga merupakan benteng utama dalam membendung pengaruh negatif bagi anak. Oleh karena itu keluarga ikut mendampingi dalam penggunaan media digital sebagai sarana pengembangan literasi (keselamatan dan keamanan media digital)

Komunitas pendidikan memilki peran dalam meningkatkan fasilitas yang mendukung program GELIGA (Gerakan Literasi Digital) yaitu dengan melakukan pelatihan dan kegiatan tersebut di sekolah. Dalam menanamkan literasi digital dalam sekolah, guru perlu adanya peningkatan pengetahuan serta kreativitasnya dalam proses pembelajaran literasi digital, serta kepala sekolah harus memberikan fasilitas warga sekolah dalam mengembangkan literasi digital sekolah.

 

E.      Tolok Ukur

  1.  Pemahaman rekan sejawat dan siswa tentang paradigma literasi tidak hanya membaca dan bahan bacaan bukan hanya manual melainkan juga digital. Literasi tidak sekedar membaca dan menulis namun juga keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan berbentuk cetak, visual, digital dan auditori.
  2. Pemahaman rekan sejawat dan siswa dalam menggunakan media digital secara bijak, kreatif dan bertanggung jawab

F.       Linimasa

·                Komunikasi dan Kolaborasi dengan Kepala Sekolah dan Rekan Sejawat terhadap rancangan aksi (Program)

  1. Komunikasi dan kolaborasi bersama siswa dan perwakilan orang tua murid terhadap rencana aksi/program
  2.  Membuat jadwal kegiatan
  3.  Kegiatan dibuat dalam bentuk pelatihan mini di sekolah atau di salah satu rumah wali murid
  4. Kegiatan awal pelatihan mini di lakukan dengan melibatkan seluruh guru dan sebagian siswa dan saya sebagai pemateri
  5. Kegiatan pelatihan mini berikutnya di lakukan oleh masing-masing guru kelas sebagai pemateri dan melibatkan sebagian guru dengan peserta siswa di kelas tersebut

 

 

G.      Dukungan yang dibutuhkan

Aset sekolah

  • Fasilitator dan Pendamping untuk memberikan dukungan dan semangat serta motivasi CGP
  • Kepala Sekolah
  •  Rekan Sejawat
  • Siswa
  • Wali Murid
  • Sarana dan Prasarana sek

Senin, 12 April 2021

πŸ›.πŸ™.𝕒.𝟠.πŸ™. β„π•’π•Ÿπ•˜π•œπ•¦π•žπ•’π•Ÿ π•‚π• π•Ÿπ•–π•œπ•€π•š π”Έπ•Ÿπ•₯𝕒𝕣 π•žπ•’π•₯π•–π•£π•š

 

𝒾𝓃𝑔 π‘”π’Άπ“‡π“ˆπ‘œ π“ˆπ“Šπ“ƒ π“‰π“Šπ“π‘œπ’Ήπ‘œ

𝒾𝓃𝑔 π“‚π’Άπ’Ήπ“Žπ’Ά π“‚π’Άπ“ƒπ‘”π“Šπ“ƒ π“€π’Άπ“‡π“ˆπ’Ά

π“‰π“Šπ“‰ π“Œπ“Šπ“‡π“Ž  π’½π’Άπ“ƒπ’Ήπ’Άπ“Žπ’Άπ“ƒπ’Ύ

(Ki Hajar Dewnatara)

Sebagai seorang guru adalah menjadi kewajiban baginya untuk menjadi teladan dimanapun ia berada sehingga setiap saat  masyarakat bisa meminta pendapat dan dorongan serta bimbingannya.

Setiap saat akan dihadapkan pada permasalahan-permasalahan baik itu terkait dengan Pendidikan maupun persoalan social lainnya yang terkadang membutuhkan pendapat dan dukungannya. Karenanya bagi seorang pendidik maka memahami filosofi Pratap Triloka akan mempengaruhi bagaimana ia mengambil sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin pemebelajaran. Menjadi teladan memang bukanlah sesuatu yang mudah memang, tetapi  perlu untuk memulai dan membiasakan untuk menanamkan nilai-nilai positif yang lahir dari karakter (pembiasaan keseharian). Bagaimana menumbuhkan social emosional pada diri sehingga mampu memahami apa yang menjadi persoalan yang dihadapi sehingga dengan baik.

ketika menghadapi situasi dilema etika,akan terdaoat nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan. secara umum terdapat empat paradigma dilema etika yakni :

(a) Individu lawan masyarakat ( individual vs community)

(b) rasa keadilan lawan rasa kasihan (Justice vs mercy)

(c) Kebenaran lawan kasetiaan (Truth vs Loyalty)

(d) Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

coaching menjadi salah satu sarana untuk mengetahui atau mengidentifikasi sebuah persoalan sehingga akan sangat membantu dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. apakah pengambilan keputusan tersebut telha efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut hal ini tentunya bisa dibantu dengan ativitas coaching. pada aktivitas coaching ini kita akan sangat efektif dalam melakukan pengambilan dan pengujian keputusan melalui 9 langkah yakni :

1. mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini

2. menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3. kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4. pengujian benar atau salah: uji legal, uji regulasi/stadar profesional, uji intusi, uji halaman depan koran, uji panutan/idola.

5. pengujian paradigma benar lawan benar

6. melakukan prinsip resolusi

7. investigasi opsi trilema

8. buat keputusan

9. lihat lagi keputusan dan refleksikan

pada identifikasi masalah inilah akan menentukan apakah kasus tersebut adalah masalah moral atau etika yang tentu saja jangan sampai keputusan yang kita ambil bertentangan dengan nilai-nilai yangdianut seorang pendidik. karena nilai-nilai atau prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil sebuah keputusan.

Pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan ang positif, kondusif aman dan nyaman, sehingga  terdapat 3 prisip yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan penuh tantangan , yang dihadapi saat ini (kidder,2009, hal.144). ketiga prinsip tersebut adalah : 

(a) Berfikir baerbasis Hasil akhir (end_based Thingking)

(b) berfikir Berbasis Peraturan ( Rule- Based Thingking)

(c) Berfikir Berbasis Rasa Peduli ( Care-Based Thingking)

ketiga prinsip inilah yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan dan tentunya setiap keputusan yang dibuat oleh pendidik mengarahkan pada kebutuhan murid. sehingga tercipta lingkungan positif, kondusif, aman dan nyaman bagi siswa.

kesulitan-kesulitan yang sulit dijalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika adalah ketika kasus tersebut dihadapkan pada saat kita harus memilih peraturan dan rasa peduli. sehingga tidak mudah melakukan perubahan di slingkungan kita, terlebih lagi bila setiap keputusan yang diambil tidak mendapatkan dukungan ataukah justru mendapatkan penolakan dari rekan sejawat. 

Setiap keputusan yang diambil adalah berfokus pada kebutuhan murid-murid, bagaimana menciptakan susasana yang nyaman, dan aman bagi siswa dalam menerapkan merdeka belajar. apapun persoalan dilema etika yang dihadapi, sebagai seorang pendidik adalah mengutamakan keputusan pada kebaikan murid-murid. sehingga setiap keputusan yang dibuat akan mengembangkan budaya dan karakter pelajar pancasila pada murid-murid serta menciptakan budaya positif.

Dari pemahaman pengambilan seorang pemimpin pembelajaran, setiap keputusan-keputusna yang dibuatnya, selalu mengarahkan ia pada penengambangan pembelajaran sehingga yang ada adalah murid-murid senantiasa berkembang dengan potensi yang dimilikinya. keputusan ini penting karena sebagai pemimpin pembelajaran ia akan menjadi center yang akan menggerakkan komunitas pendidikan yang ada disekitarnya untuk lebih baik lagi seperti matahari menggerakkan planet-planet. dan semua itu tidak hadir dengan sendirinya tanpa adanya pemahaman yang mendalam tentang kebijakan-kebijakan nilai moral dan budaya positif yang memerdekan murid dalam pembelajaran.

Rabu, 07 April 2021

3.1.a.7 Demonstrasi Kontekstual (jurnal Monolog)

"Pendidikan adalah Seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis"

 (Georg Wilhelm Friedrich Hegel).


seseorang yang memiliki pendidikan tentunya akan lebih memikir banyak hal atau sebelum melakukan sesuatu ia lebih banyak menimbang-nimbang setiap keputusannya, sehingga ia lahir sebagai sosok yang berperilaku etis berdasarkan nilai moral dan hukum yang berlaku di masyarakat.

selama mengikuti pendidikan guru penggerak ini, kami belajar banyak hal, terutama agar terciptanya merdeka belajar bagi murid-murid, dimana murid merasa nyaman dan aman sehingga lahir profil pelajar pancasila yang didambahkan.

pada pendidikan ini saya mendapatkan ilmu pengertahuan baru yang belum saya dapatkan sebelumnya seperti filosofi KHD yang  menjadi dasar di setiap modul yang ada, bagaimana membuat visi dan misi sekolah yang berpihak pada murid dengan metode BAGJA serta pembelajara berdeferensiasi, SEL, Coaching dan yang terakhir di modul 3.1. ini adalah pemimpin pembelajaran.

pada pemimpin pembelajaran dan pengembangan sekolah ini. kami yang ikut dalam  pendidikan guru penggera di ajarkan bahwa untuk bagaimana membuat keputusan dengan alur yang lebih runut sehingga bisa menghasilkan keputusan yang besar. kemudian muncul pertanyaan berikut:

1. bagaimana anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal sekolah anda?

selama mengikuti pendidikan guru penggerak, ilmu yang diberikan membuat perubahan pada diri saya dan murid-murid yang saya ajarkan. pada pendidikan ini bagaimana guru menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid, mengajar dengan sesuai dengan kebutuhan siswa. dari manfaat yang saya rasakan ini, tentunya saya ingin membaginya dengan rekan-rekan di sekolah. menghidupkan budaya positif yang hampir tergerus oleh teknologi dan internet. segala informasi mungkin bisa di dapatkan di internet tetapi peran guru tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan tetapi seorang guru harus menjadi "Ing Ngarso SunTulodo, Ing Masya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" filosofi yang harus ada pada sosok seorang guru tidak akan mungkin diberikan google. yang diharapkan adalah bagaimana murid-murid bisa merindukan gurunya setiap hari untuk bisa belajar. 

pendidikan guru penggerak adalah peserta pendidikan mampu menggerakkan komunitas sehingga sasaran utama pendidikan adalah seluruh warga sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, staf sekolah, murid, wali dan seluruh stakehorder. 

setiap sasaran pendidikan tentunya berbeda tujuan yang akan dicapai, misalnya pada :

a. Guru , tentunya akan dilakukan sosialisasi melalui guru berbagi

b. Murid, murid sasaran praktek guru untuk melejitkan  potensi murid dalam pembelajaran

c. kepala sekolah merupakan pembuat kebijakan dari setiap keputusan di sekolah.

semua ilmu agar bisa berkah dan awet tentunya harus di transfer ke seluruh komunitas, melalui bincang-bincang secara personal ataukah melalui komunitas yang ada. agar guru-guru yang lain juga turut bergerak merealisasikan merdeka belajar

2. apa langkah-langkah awal yang akan anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

sebelum saya  belajar modul 3 ini, saya membuat keputusan berdasarkan insting belaka. setelah mempelajari modul 3.1 ini maka saya bisa mempeljarilangkah-langkah dalam mengambil keputusan dimana dalam setiap mengambil keputusan kita harus membedakan antara dilema etika dengan bujukan moral. dimana berbagai permasalahan yang ada tentunya tidak lepas dari kedua hal tersebut.

setiap keputusan yang mengandung unsur dilema etika tentunya harus mengkategorikan dilema tersebut kedalam nilai-nilai kebajikan apa yang bertentangan dalam permalahan tersebut sehingga mengkotegorikannya dalam 4 paradigma dilema etika yakni :

(a) Paradigma Individu lawan Masyarakat (individual vs community)

(b) Paradigma rasa keadilan lawan rasa kasihan ( Justice vs mercy)

(c) Kebenaran lawan kesetiaan (Truth vs Loyalty)

(d) jangka Pendek lawan Jangka Panjang ( Short term vs long term)

dari pengalaman keseharian kita di intitusi pendidikan , kita mengetahui bahwa dilema eetika adalah hal yang berat yang harus di hadapi dari waktu ke waktu. misalnya pada kasus selama pandemi covid-19 ini, tidak semua siswa siswa kelas 6 aktif dalam mengikuti pembelajaran, beberapa siswa lebih memilih untuk membantu orang tua di kebun dibadingkan mengikuti pelajaran, sehingga sulit bagi guru membuat keputusan ketika ia harus terikat pada aturan yang ada bahwa seluruh siswa kelas 6 harus lulus (wajib belajar 9 tahun) dan pada satu sisi lainnya harus berbuat adil terhadap siswa yang rajin mengikuti pelajaran yang memiliki hal untuk lulus.

setiap keputusan yang dibuat dalam pembelajaran akan berdampak pada guru maupun murid sehingga membutuhkan keputusan yang tepat. dan setiap keuputusan tersebut tentunya memilki pertimbangan yang matang berdasar dari salah satu dari tiga prinsip pengambilan keputusan yakni :

1. berpikir berbasis hasil akhir (end-Based Thingking)

2. berpikir berbasis peraturan (rule-based thingking)

3. berpikir berbasis rasa peduli (care -based thinking)

ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam mengahadapi piliha-pilihan yang penuh tantangan yang harus di hadapi dalam dunia ini (kidder,2009,hal144)

dalam pengambilan keputusan tentunya menggunakan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dalam permasalahan yang dihadapi dan bersikan reflektif, kritis dan kreatif dalam proses tersebut. adapun 9 langkah tersebut adalah 

(1) Mengenali bahwa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini

(2) Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

(3) Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

(4) Pengujian Benar atau salah melalui : Uji Legal, Uji regulasi/Standar Profesional, Uji Intuisi, Uji Halaman depan Koran, Uji Panutan/idola,

(5) Pengujian Paradigma Benar lawan Benar dengan menggunakan keempat paradigma dilema etika

(6) Melakukan Prinsip Resolusi dengan menggunakan 3 prinsip penyelesaian dilema

(7) Investigasi Opsi Trilema

(8) membuat Keputusan

(9) Lihat lagi keputusan dan Refleksikan

dengan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan dan pengujian keputusan pada setiap kasus yang ada tentu akan melahirkan keputusan yang tepat.

dalam KKG mini atau Komunitas Praktisi yang diadakan di sekolah, selain melatih keterampiran guru dalam IT dan pembelajaran tentunya komunitas ini akan juga membahas terkait dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru dan murid-murid di sekolah. sehingga dengan 9 langkah ini guru mampu membuat keputusan yang tepat terhadap persoalan yang mungkin terkait dengan pembelajaran yang dihadapi oleh murid-muridnya.

3. mulai kapan anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa?

saya akan memulai menerapkan langkah-langkah ini dalam setiap pengambilan keputusan di komunitas praktisi pembelajaran, maupun dalam pengambilan keputusan-keputusan lainnya. untuk saat ini kami dikomunitas praktisi lebih fokus ke penngembangan kompetensi guru dalam bidang IT selama pandemi covid-19 ini. akan tetapi di selam pembelajaran bisanya kami akan berbincang-bincang terkait dengan permasalahan yang ada dalam pembelajaran di setiap guru. sehingga untuk mensosialisasikan langkah-langkah ini lebih instens pada tahun ajaran baru 2021//2022 insyaallah. mengingat saat ini di wilayah kami yang tidak memiliki jaringan internet, dimana pembelajaran dilakukan diluar jaringan, guru melakukan kunjungan keliling di setiap kelompok belajar di wilayah kami. dari kegitan pembelajaran ini, akan sangat melelahkan bagi mereka bila harus melakukan aktifitas lainnya lagi. sehingga komunitas praktisi hanya melakukan pertemuan sekali seminggu dengan durasi waktu yang sangat terbatas. durasi yang terbatas berkisar sejam ini , selain karena memahami kelelahan guru dalam aktifitasnya, juga sebagai sarana mengurangi penyebaran covid-19. jadi pelaksanaan baru akan bisa dilakukan secara intens pada saat sekolah kembali di buka dan rencananya pada juli 2021.

4. siapa yang akan menjadi pendamping anda dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? seseorang yang akan menjadi teman diskusi anda untuk menentukan langkah-langkah yang anda ambil lebih tepat dan efektif.

yang selama ini mendampini saya dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin belajar adalah rekan guru saya sesama guru penggerak di sekolah. di samping itu juga, kepala sekolah sebgai penentu kebijakan utama di sekolah juga sangat mendukung setiap keputusan yang mengarahkan kepada kebaikan dan pengembangan sekolah. sehingga terkadang saya dan rekan CGP lainnya berdiskusi langsung dengan kepala sekolah terkait dengan keputusan-keputusan yang akan di ambil. keputusan dengan menggunakan 9 langkah akan sangat efektif dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat. bila dalam sisi agama, maka keputusan dengan menggunakan 9 langkah sama halnya membuat keputusan dengan menggunakan dalil/ hukum islam. ini berarti setiap keputusan memiliki dasar hukum dan telah diuji sehingga bisa secara tepat mampu menyelesaikan persoalan. sebagai CGP maka saya dan rekan CGP lainnya selalu berdiskusi dengan Kepala sekolah dan juga rekan-rekan guru lainnya dengan menggunakan komunikasi assertif. sehingga keputusan yang dibuat itu mampu diterima oleh yang lain  karena memiliki dasar yang kuat selain dasar hukum dan kode etik, juga keputusan diambil dari fakta-fakta yang relevan sehingga mampu mengenai sasaran. 


Kamis, 25 Maret 2021

KESEPAKATAN KELAS CERMINAN NILAI DISIPLIN POSITIF DALAM KELAS



 Seringkali permasalahan dengan murid berkaitan dengan komunikasi antara murid dengan guru, terutama ketika murid melanggar suatu aturan dengan alasan tidak mengetahui adanya aturan tersebut. Kurang adanya komunikasi ini menyebabkan relasi murid dan guru menjadi kurang akur. Salah satu langkah dalam menerapkan budaya disiplin positif adalah dengan membentuk lingkungan kelas yang mendukung terciptanya budaya positif, yaitu dengan menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif di kelas.

Kesepakatan kelas adalah potret pendekatan yang lebih mengedepankan peran aktif siswa sebagai subjek pendidikan, sehingga setiap pendapat siswa perlu dihargai. Lewat kesepakatan kelas, anak-anak sekaligus belajar tentang nilai-nilai demokrasi, serta pentingnya bertanggung jawab terhadap kesepakatan yang mereka buat sendiri. ⁣

Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap pengajar. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan murid.35 Dalam menyusun kesepakatan kelas, guru perlu mempertimbangkan hal yang penting dan hal yang bisa dikesampingkan. Murid dapat mengalami kesulitan dalam mengingat banyak informasi, jadi susunlah 4 - 8 aturan untuk setiap kelas. Jika berlebihan, murid akan merasa kesulitan dan tidak mendapatkan makna dari kesepakatan kelas tersebut. Kesepakatan harus disusun dengan jelas sehingga murid dapat memahami perilaku apa yang diharapkan dari mereka. Kesepakatan yang disusun perlu mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan. Kesepakatan perlu dapat diperbaiki dan dikembangkan secara berkala, seperti setiap awal semester. Untuk mempermudah pemahaman murid, kesepakatan dapat ditulis, digambar, atau disusun sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan disadari oleh murid. Strategi lain adalah dengan mencetaknya di setiap buku laporan kegiatan murid. Hal ini menjadi strategi yang baik untuk meningkatkan komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah.

Kesepakatan kelas dibuat oleh guru dan siswa dengan menggunakan kata-kata positif. kesepakatan dijauhkan dari kata sengatif seperti kata"jangan, tidak boleh, dan lainnya". setiap siswa mempunyai hak untuk berbicara mengungkapkan pendapatnya. kesepakatan kelas tidak mengandung sanksi maupun reward ( unsur eksterbal) akan tetapi kesepakatan kelas dibangun dari kesadaran diri guru dan murid dalam menjalankannya tanpa ada unsur paksaan maupun karena hadiah.


kesepakatan kelas kami lakukan di bulan desember untuk dilaksanakan bersama selama pembelajaran di SDN 035 Inpres Bussu kelas VI (enam), kesepakatan kelas bisa saja mengalami perubahan bila memang dirasa perlu untuk diperbaharui.

kesepakatan kelas merupakan salaha satu budaya positif dalam menanamkan nilai disiplin yang bernilai positif terhadap guru dan murid, budaya yang lahir dari kesadaran diri dan dijalankan dengan penuh tanggungjawab. sebagai salah pengejawantahan nilai-nilai demokrasi dalam mengungkapkan pendapat.

Soal kuis LK2 Bimtek Guru Pendidikan Berkebutuhan Khusus

  1. Guru di sekolah inklusif yang memiliki peserta didik berkebutuhan dengan hambatan pendengaran, harus memberikan layanan kebutuhan pembe...